Berharap pada Pemilih Rasional di Jakarta


Bakal calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama saat menghadiri deklarasi dukungan Partai Hanura pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017, di Kantor DPP Hanura, Sabtu (26/3/2016).

JAKARTA,  Musisi Ahmad Dhani, yang ingin maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta, kerap memakai sentimen agama dalam melawan Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Dhani pernah menulis di akun Twitter-nya di @AHMADDHANIPRAST. "Kpd online yg jual2 nama Islam. Pemimpin Non muslim itu sama haramnya dgn LGBT &Babi...masukin tu ke online lu @Islamnkri2014" tulisnya.
Dhani menyindir elemen-elemen berbasis agama di masyarakat, termasuk parpol, yang menurutnya ambivalen dalam menentukan sikap. Dhani yang yakin didukung oleh partai Islam, yaitu PKB, bahkan menyebut partai itu berkhianat jika pada akhirnya mendukung Ahok.
"Kalau PKB dukung Yusril, saya nggak ada masalah. Kalau dukung Ahok, dia mengkhianati pemilihnya. Karena mayoritas pemilihnya umat Islam," ujarnya.
Dalam diskusi "Fenomena Pilgub DKI 2017" di Gedung Joeang, Jakarta, Selasa (10/5/2016),  Ahmad Dhani menekankan pentingnya memiliki pemimpin muslim bagi Jakarta yang mayoritas penduduk beragama Islam.
Namun argumentasinya itu ditentang keras pengamat politik Boni Hargens. Boni menyatakan bahwa identitas suku, ras, agama dan, antargolongan (SARA) melekat pada diri tiap manusia. Namun dalam demokrasi, sentimen itu menjadi tidak relevan.
"Prinsip demokrasi itu keadilan dan kesetaraan yang tidak memandang suku atau agama, tapi hak yang sama buat setiap individu untuk maju sebagai pemimpin," ujarnya.
Boni menilai, ada dua jenis masyarakat politik, yaitu yang parokial dan rasional. Masyarakat parokial tidak memiliki pengetahuan politik yang memadai sehingga tidak bisa diharapkan bergerak secara otonom. Masyarakat inilah yang berpotensi dimainkan oleh para calon pemimpin dengan menyulut sentimen SARA.
Namun menurut Boni, masyarakat politik Jakarta terdiri dari masyarakat politik yang rasional.
"Masyarakat rasional ini lebih cerdas dan relatif lebih baik. Saya percaya pemilih di Jakarta rasional," kata dia.
Boni sempat merujuk pada pertarungan dalam Pilkada DKI 2012. Joko Widodo berhasil mengalahkan petahana Fauzi Bowo (Foke) yang cukup kuat. Menurutnya, blunder terbesar yang menyebabkan Foke kalah adalah sentimen SARA yang dibawanya.
"Blunder terbesar ketika Foke dengan sangat terstruktur memainkan isu SARA, ini melawan hukum politik masyarakat cerdas," kata Boni.
Sementara itu, ideologi partai yang berbasis agama menurut Boni masih relevan untuk digunakan. Namun bukan berarti pendukung mutlak mengikuti pilihan partai.
"Pilihan politik masyarakat, tidak memakai referensi partai, tapi pilihan personal dan melihat media massa, pada sosial media, pada opini publik, dan pada pertimbangan personalnya. Itu adalah ciri pemilih rasional," kata Boni.
Ia tidak membantah bahwa partai memiliki basis kuat karena partai adalah organisasi yang melekat pada masyarakat. Namun dalam pemilihan umum, andil terbesar partai bukan pada pilihan calonnya.
"Organisasi partai itu lebih berpengalaman dalam menggalang dukungan dan mengelola proses pemilihan seperti mengawasi TPS dengan saksi. Dalam konteks itu, partai hadir," ujar Boni.
Pilkada 2017 akan bertumpu pada tujuh juta pemilih. Boni yakin bahwa pemilih Jakarta adalah pemilih rasional yang tak lagi tersulut sentimen SARA.
Jika sentimen itu berkembang, menurutnya, bukan berasal dari masyarakat. "Itu hanya calon dan oknumnya yang sengaja memanas-manasi masyarakat."

No comments:

Post a Comment