Bakal Cagub Perempuan Ini Sebut Kebijakan Ahok Sangat Maskulin


Aktivis perempuan Luluk Nur Hamidah (kiri) dan pengamat tata ruang dan kota Yayat Supriatna (kanan).

JAKARTA, Aktivis perempuan sekaligus bakal calon gubernur DKI Jakarta, Luluk Nur Hamidah, mengkritik kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam melakukan penggusuran warga.
Menurut dia, kebijakan Ahok terkait penggusuran terkesan maskulin.
"Ini sudah sangat maskulin, ya. Jadi, pembangunan yang maskulin seperti inilah yang sama-sama kita rasakan, mulai dari represif, intimidatif, enggak mau musyawarah," ujar Luluk dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (21/4/2016).
Pembangunan yang maskulin, lanjut Luluk, menghilangkan proses-proses yang melibatkan perasaan.
 
Seharusnya, kata dia, Ahok mempertimbangkan perasaan warga dan memberi mereka kesempatan untuk berpartisipasi. "Sudah waktunya partisipasi dari warga itu. Semua elemen saya kira punya hak yang sama untuk memberikan kontribusi, Jakarta ini seperti apa, Jakarta ini milik siapa, Jakarta yang kita mau itu seperti apa," kata Luluk.
Ia pun menyamakan gaya pemerintahan Ahok dengan pemerintah Orde Baru.
"Kita kembali pada semangat bahwa membangun itu harus manusiawi. Model-model yang represif, model-model yang sangat militeristik, apalagi yang dilakukan dengan kekerasan, itu udah jadul ya, udah kuno. Itu Orde Baru," ucap Luluk.
 
Menurut Luluk, model pemerintahan Orde Baru tidak lagi berlaku saat ini. Zaman sekarang, dia melanjutkan, masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam menentukan kebijakan. Dengan demikian, kata dia, kebijakan tersebut dapat menghasilkan wujud Jakarta yang mereka harapkan.
"Era baru, saya kira ini yang harus kita kukuhkan adalah pelibatan dari semua komponen, laki, perempuan, tua renta, semuanya punya hak untuk didengarkan sehingga model Jakarta pastilah mencerminkan kehendak kalian warga Jakarta," papar Luluk.

No comments:

Post a Comment