Bakal calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono, usai menjalani cek
kesehatan di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Jakarta, Sabtu
(24/9/2016). Hari ini ketiga pasangan bakal calon gubernur dan calon
wakil gubernur menjalani pemeriksaan kesehatan, sebagai salah satu
syarat mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017.
Yudhoyono, mengungkapkan bagaimana awalnya ia bisa dipilih menjadi
bakal calon gubernur DKI. Sehari sebelum batas akhir pendaftaran calon
peserta pilkada DKI ke KPU DKI, Agus ditelepon ayahnya, Ketua Umum
Partai
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Agus dihubungi SBY pada 22 September 2016, ketika sedang berada di Darwin, Australia, dalam rangka latihan pasukan
TNI Angkatan Darat dengan pasukan AD Australia.
Dalam
kesempatan itu, SBY menyampaikan mengenai situasi perkembangan politik
di Pilkada DKI. Kata Agus, SBY menyebut ada empat partai politik yakni
PPP, PKB, PAN, termasuk
Demokrat, sepakat untuk bersatu mengusung dirinya di Pilkada DKI.
SBY berpesan agar Agus berpikir matang sebelum memutuskan setuju atau tidak. SBY juga menyampaikan konsekuensinya.
Namun,
Agus tidak punya banyak waktu untuk memikirkan. Agus mengaku tidak
pernah membayangkan hal itu sebelumnya, karena fokus terhadap latihan di
Australia.
Setelah memikirkan dalam batin, Agus memutuskan mau
maju di pilkada. Hari itu juga ia kembali ke Tanah Air dan tiba 23
September 2016 dini hari.
"Tapi untungnya kami prajurit terbiasa
menghadapi situasi yang genting, enggak banyak waktu mengambil
keputusan. Dalam sempitnya waktu izinkan saya berpikir, dan saya tutup
telepon," ujar Agus, dalam jumpa pers "Di Balik Keputusan Agus
Yudhoyono", di Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin (3/10/2016).
Agus
menuturkan, sebelum menjawab, Ia ingin mendengar dan bertatap muka
dengan tokoh dan pimpinan parpol yang mau mengusungnya. Saat tiba di
tanah air, Agus langsung menuju ke Cikeas dan telah ditunggu tokoh
pimpinan parpol yang berencana mengusungnya.
Di sana, Agus akhirnya dipilih untuk dicalonkan oleh
Demokrat,
PPP, PKB, dan PAN. Agus mengakui pilihan itu berat karena harus
meninggalkan karier yang kurang lebih 16 tahun ia bangun di militer.
Kaget
Agus
mengakui bahwa SBY juga kaget saat namanya dipilih untuk diusung partai
pendukung. Ia menepis isu bahwa keputusannya mengakhiri karier di
militer dan berubah menjadi politisi adalah karena permintaan SBY.
"Itu
adalah keputusan saya pribadi, beredar dugaan saya dipaksa, ditekan,
bahkan lucunya sampai ada yang mengatakan Pak SBY tega sekali sama Ibu
Ani nih, anaknya didorong masuk politik. Tentunya (isu) itu agak
menyakitkan karena tidak ada orangtua manapun yang ingin menjatuhkan,
menjerumuskan anaknya sendiri," ujar Agus.
Agus menyebut kedua
orangtuanya sebagai sosok demokratis. Saat Agus memutuskan untuk meniti
karier di bidang militer pun, kata dia, hal tersebut bukan atas paksaan
orangtuanya.
"Kalau ditanya, dipaksa atau tidak, saya sudah
dewasa, saya punya kepribadian dan karakter sendiri sehingga tidak
mungkin disetir, apalagi dipaksa siapa pun, termasuk orangtua sendiri,"
kata Agus.
Kemunculan
Agus yang terkesan mendadak serta latar belakang kariernya yang bukan
kader parpol membuat sejumlah kalangan mempertanyakan kemampuanmya
menjadi bakal cagub DKI.
Agus mengakui, hal itu juga menjadi
bahan renungan ketika dia diminta maju menjadi cagub DKI Jakarta.
Ditambahkan Agus, sejumlah pihak berpendapat beragam soal kemampuannya.
Ada yang mengatakan kariernya di militer selama 16 tahun sudah cukup
jadi modal untuk pengabdian di bidang lain, termasuk di politik dan
pemerintahan.
Bagi Agus, durasi pengalaman adalah hal yang
relatif. Agus meyakini bahwa kuantitas bukan segalanya. Agus menilai,
keinginan besar untuk bisa mengetahui situasi dan belajar menyesuaikan
diri merupakan hal lebih penting dalam sebuah kesuksesan.
Agus
menyampaikan, pendidikannya di militer selama 16 tahun, bisa
dimanfaatkan untuk maju pada pilkada mendatang. Ia menilai, ada kesamaan
antara politik pemerintahan dengan militer, misalnya bisa belajar soal
kepemimpinan, manajemen, dan lainnya.
"Jadi saya anggap bahwa
saya tidak berangkat dari nol banget, saya punya pengalaman baik di
pendidikan latihan tugas operasi baik di dalam maupun luar negeri, misi
perdamaian dan lainnya, yang Insya Allah dapat bermanfaat bagi saya
selanjutnya," kata Agus.
Mengapa bukan Ibas?
Agus
juga mengomentari pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat soal
alasan koalisi tidak mengusung adiknya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau
Ibas, maju dalam Pilkada DKI 2017. Padahal, Ibas sudah lebih dulu terjun
ke dunia politik.
Agus mengatakan bahwa tidak ada yang bisa
mengetahui jalan hidup seseorang ke depan. Oleh karena itu, ia
menganggap bahwa yang terjadi sekarang merupakan takdir dan jalan hidup.
Ia juga menilai, pertanyaan mengenai alasan bukan Ibas yang
diusung ini diembuskan karena ada pihak yang ingin membenturkan dirinya
dengan sang adik. Padahal, menurut dia, Ibas mendukung keputusan ini,
demikian juga dengan orangtua mereka.
"Ketika saya ambil
keputusan, dia (Ibas) juga bisik ke saya, Mas Agus sudah pikir
konsekuensinya dan apa yang harus dilakukan untuk peluang ini, diskusi
dari hati ke hati, dan adik saya lakukan itu ke saya. Saya bersyukur
keluarga kecil, tetapi kita semua saling
support," tambah Agus.
Agus
mengaku belum memikirkan mengenai karier selanjutnya bila ia gagal
dalam Pilkada DKI. Namun, Agus sadar bahwa dia tidak lagi memiliki
kesempatan untuk kembali berkarier di
TNI.
Putra sulung SBY ini juga belum memikirkan, seandainya gagal memenangi Pilkada DKI, apakah ia akan menjadi kader Partai
Demokrat atau tidak.
"Nanti
itu kita bicarakan. Untuk di bidang apa, untuk di dunia yang baru,
nanti kita lihat. Ya tetapi masih jauhlah, Insya Allah ya," kata Agus.
Agus mengaku bangga sempat berkarier di militer. Terlebih lagi, Panglima
TNI, Kepala Staf Angkatan Darat, dan Panglima Kodam Jaya mengapresiasi perjalanan kariernya di militer.
Ia merasa bangga sebab Panglima
TNI menyebut dirinya sebenarnya adalah kader yang disiapkan untuk pimpinan
TNI pada masa depan.
"Bagi perwira
TNI,
itu suatu pencapaian luar biasa, itu penghargaan yang sulit untuk
digambarkan dengan kata-kata. Pimpinan, apalagi bintang empat, Panglima
TNI, mengatakan seperti itu," ujar Agus.