Kapala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) M. Yusuf di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/9/2016)
JAKARTA, - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) membeberkan daftar negara yang pernah mengirimkan dana terorisme ke Indonesia. Dari penelusuran PPATK, negara asal yang paling banyak mengalirkan uang untuk terorisme adalah Australia.
Hal tersebut diungkapkannya dalam rapat dengan Panitia Khusus (Pansus) revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
"Australia 97 kali dengan Rp 88,8 miliar," ujar Yusuf dalam paparannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/9/2016).
Transaksi tersebut, kata Yusuf, mulai tampak pada 2012 yang ditelusuri hingga saat ini.
Adapun 97 kali transaksi tersebut dilakukan dengan berbagai cara, baik perseorangan maupun kelompok.
Negara berikutnya yang mengirimkan dana untuk terorisme ke Indonesia adalah Malaysia sebanyak 44 kali dengan aliran dana sebesar Rp 754,8 juta, Singapura 7 kali dengan jumlah duit sebesar Rp 26, 1 juta, serta Filipina satu kali senilai Rp 25 juta.
PPATK juga mencatat aliran dana terorisme yang mengalir dari Indonesia ke luar negeri. Aliran dana terbanyak dialirkan dari Indonesia ke Australia sebanyak 6 kali dengan dana berjumlah Rp 5,38 miliar.
Sedangkan aliran dana dari Indonesia ke Filipina meski dilakukan 43 kali namun hanya sejumlah Rp 229 juta.
Adapun aliran dana dari Indonesia ke Hongkong dilakukan sebanyak dua kali dengan jumlah Rp 31, 1 miliar.
Yusuf memaparkan, ada sumber pendanaan terorisme yang berasal dari Australia dan negara timur tengah.
Sumber pendanaan juga diperoleh dari yayasan dan urunan anggota atau simpatisan. Untuk yayasan, lanjut Yusuf, pembiayaan digunakan untuk memberangkatkan para teroris ke luar negeri atau yang dikenal sebagai Foreign Terrorist Figthers (FTF).
Namun, ia enggan menyebutkan nama-nama yayasan tersebut. "Sudah diarahkan ke Densus nama-namanya," ujar Yusuf.
Mengenai modus aliran dananya, kata Yusuf, salah satu contohnya adalah dengan menyewa orang atau bahkan menikahi orang Indonesia.
"Contoh yang di Australia, kirim ke Indonesia. Bule nikah sama orang Indonesia, lalu si istri diminta membuka rekening. Rekening ada dua istri dan dia, lalu (uang) dibagi-bagi cash ke daerah-daerah yang rawan terorisme, seperti Bekasi," ungkapnya.
Sementara itu, instrumen yang digunakan untuk mengalirkan dana terorisme tersebut kebanyakan menggunakan pembayaran virtual, seperti Bitcoin dan PayPal.
Yusuf menuturkan, pihaknya menemukan istri salah seorang teroris mengirimkan dana kepada suaminya di Suriah melalui PayPal. "Kami lagi mencari tahu bagaimana mereka mengakses PayPal," tutur Yusuf.
No comments:
Post a Comment