Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang, NTT sedang belajar tentang pengembangan ubi ungu di kebun milik anggota DPD RI Ibrahim Agustinus Medah
KUPANG, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ibrahim Agustinus Medah, mengaku saat ini sedang menyiapkan 50 juta bibit ubi ungu kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Iban sapaan akrab Ibrahim Agustinus Medah, masyarakat NTT
harus terus diberi motifasi agar menanam ubi ungu sebanyak-banyaknya,
guna mengantisipasi terjadinya rawan pangan yang selalu melanda NTT
akibat kekeringan.
Iban menyebutkan, tanaman ubi ungu ini, tidak banyak membutuhkan air dan sangat cocok dengan kondisi alam NTT, yang curah hujannya sangat sedikit.
“Jika menggunakan metode penanaman yang benar dan tepat, maka dalam satu pohon bisa menghasilkan ubi dengan berat mencapai tiga sampai lima kilogram. Ini bukan sekedar omong-omong saja tetapi sudah berhasil dilakukan di wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan dan di Pulau Semau, Kabupaten Kupang,” kata Iban.
“Kita sudah distribusikan ke seluruh Kabupaten di daratan Timor, Flores, dan Sumba, dan kita akan terus membagikan bibit ini kepada seluruh masyarakat dan target kita sampai bulan Nopember 2016 semua desa di NTT sudah mendapatkan bibit ubi ungu,” sambung mantan Bupati Kupang dua periode itu.
Iban menjelaskan, sebagai panduan bagi masyarakat dalam menanam, merawat, dan memperbanyak bibit, pihaknya juga menyiapkan brosur secara berkala yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam mengembangkan ubi ungu.
“Bicara menyangkut pasar, jangan khawatir, karena kita sudah bangun kesepakatan dengan salah satu perusahaan di Jawa Barat yang siap membeli ubi dari NTT dan setiap hari perusahaan tersebut sanggup membeli 30 Ton. Bahkan, pasar Singapura juga sudah kita jajaki dan siap menerima hasil dari NTT setelah kita kirim sampel ubinya yang kita panen dari kebun ini,” jelas Iban.
Sementara itu, Dosen Pendamping Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Leny Moy mengaku kebun ubi ungu milik sang senator ini paling lengkap untuk dijadikan tempat belajar bagi mahasiswa pertanian.
“Secara pribadi saya sangat terinspirasi dengan sistem irigasi tetes yang diterapkan di kebun ini dan juga metode penanamannya. Dari beberapa lokasi yang kami jadikan sebagai tempat studi lapangan, memang lokasi pusat pembibitan ubi ungu ini paling lengkap,” kata Leny.
“Di sini kami para dosen dan mahasiswa kami bisa melihat langsung dan mendapatkan ilmu tentang pengembangan ubi ungu dan lebih khusus tentang irigasi tetes,” sambung Leny.
Ia berharap agar pada tahun-tahun mendatang, ia akan mengarahkan para mahasiswanya untuk melakukan studi lapangan di lokasi itu..(K57-12)
Iban menyebutkan, tanaman ubi ungu ini, tidak banyak membutuhkan air dan sangat cocok dengan kondisi alam NTT, yang curah hujannya sangat sedikit.
“Jika menggunakan metode penanaman yang benar dan tepat, maka dalam satu pohon bisa menghasilkan ubi dengan berat mencapai tiga sampai lima kilogram. Ini bukan sekedar omong-omong saja tetapi sudah berhasil dilakukan di wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan dan di Pulau Semau, Kabupaten Kupang,” kata Iban.
“Kita sudah distribusikan ke seluruh Kabupaten di daratan Timor, Flores, dan Sumba, dan kita akan terus membagikan bibit ini kepada seluruh masyarakat dan target kita sampai bulan Nopember 2016 semua desa di NTT sudah mendapatkan bibit ubi ungu,” sambung mantan Bupati Kupang dua periode itu.
Iban menjelaskan, sebagai panduan bagi masyarakat dalam menanam, merawat, dan memperbanyak bibit, pihaknya juga menyiapkan brosur secara berkala yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam mengembangkan ubi ungu.
“Bicara menyangkut pasar, jangan khawatir, karena kita sudah bangun kesepakatan dengan salah satu perusahaan di Jawa Barat yang siap membeli ubi dari NTT dan setiap hari perusahaan tersebut sanggup membeli 30 Ton. Bahkan, pasar Singapura juga sudah kita jajaki dan siap menerima hasil dari NTT setelah kita kirim sampel ubinya yang kita panen dari kebun ini,” jelas Iban.
Sementara itu, Dosen Pendamping Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Leny Moy mengaku kebun ubi ungu milik sang senator ini paling lengkap untuk dijadikan tempat belajar bagi mahasiswa pertanian.
“Secara pribadi saya sangat terinspirasi dengan sistem irigasi tetes yang diterapkan di kebun ini dan juga metode penanamannya. Dari beberapa lokasi yang kami jadikan sebagai tempat studi lapangan, memang lokasi pusat pembibitan ubi ungu ini paling lengkap,” kata Leny.
“Di sini kami para dosen dan mahasiswa kami bisa melihat langsung dan mendapatkan ilmu tentang pengembangan ubi ungu dan lebih khusus tentang irigasi tetes,” sambung Leny.
Ia berharap agar pada tahun-tahun mendatang, ia akan mengarahkan para mahasiswanya untuk melakukan studi lapangan di lokasi itu..(K57-12)
No comments:
Post a Comment