Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu berfoto bersama pengasuh Pondok Pesantren Al Asriyyah Nurul Iman, Kabupaten Bogor Umi Waheeda Binti H Abdul Rahman (perempuan) dan Habib Muhammad Walilulah (bersorban) seusai memberikan ceramah bela negara kepada ribuan santri pondok tersebut, Jumat (8/4). Pondok pesantren ini mengajarkan santri-santrinya untuk mandiri dan mau berusaha, tak mengandalkan proposal untuk mendapatkan dana kegiatan atau meminta uang di jalanan untuk membangun masjid seperti kerap terjadi.
BOGOR, Perang membela negara bisa dinilai sebagai jihad. Namun, jihad yang paling utama adalah menjaga hawa nafsu. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mencontohkan Perang Badar di zaman Nabi Muhammad ketika berpidato tentang kesadaran bela negara di hadapan ribuan santri Pondok Pesantren Al Asriyyah Nurul Iman, Kabupaten Bogor, Jumat (8/4/2016).
Kendati sudah berperang habis-habisan, kata Ryamizard, Nabi tetap mengatakan perang itu belum apa-apa ketimbang perang melawan hawa nafsu.
"Bom bunuh diri bukan jihad. Perang membela negara itu jihad, tapi bunuh orang itu jahat. Jangan dibalik-balik," tuturnya.
Pengasuh ponpes Umi Waheeda Binti H Abdul Rahman juga mengingatkan, jihad memang melawan hawa nafsu: (nafsu) malas, maling, peminta-minta.
Karenanya, di Nurul Iman, anak dididik tidak malu bekerja apapun. "Walau kita hitam, kulit gosong (bekerja), ini jihad, jihad melawan kemiskinan dan kebodohan," ujarnya.
Umi Waheeda menambahkan, justru ormas Islam pun semestinya berpikir untuk bekerja dan mencukupi biaya kegiatannya secara mandiri.
Karenanya, dia pun mengharapkan santri-santri Nurul Iman tidak boleh hanya membawa proposal atau meminta-minta uang di jalan untuk pembangunan masjid.
Saat ini, badan usaha seperti pabrik roti, susu kedele, dan kebun menjadi upaya ponpes untuk mandiri.
Nonfisik
Untuk santri Indonesia saat ini, ancaman yang dihadapi bersifat nonfisik, yakni ancaman ideologi negara, Pancasila.
Serangan ideologi berbasis asing seperti liberalisme dan radikalisme agama dinilai bisa merusak pola pikir dan jati diri bangsa.
Ryamizard mengingatkan Pancasila adalah roh jati diri bangsa. Tanpa roh dan jati diri yang kuat, negara akan mudah hancur seperti Yugoslavia yang sudah bubar dan tinggal sejarah.
Demikian pula, Uni Soviet, Irak, Libya kini pecah akibat rakyatnya kehilangan rasa cinta tanah air.
Padahal, dengan idealisme hati nurani dan kesadaran bela negara, semua warga bisa berkontribusi menjaga keutuhan NKRI.
Karenanya, semangat bela negara ini, kata Ryamizard, harus dilandasi kebanggaan dan kecintaan yang tulis dan mendalam dari seluruh komponen terhadap bangsa dan negaranya.
Dalam kunjungan ini, Menhan disambut pengasuh pondok Umi Waheeda Binti H Abdul Rahman dan Habib Muhammad Walilulah serta ribuan santri yang juga menggelar berbagai pertunjukan seni.
No comments:
Post a Comment